Menjaga Denyut Sumber Biru: Resiliensi Sosio-Ekologis dan Tata Kelola Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Gunungrejo, Singosari

Authors

  • Muhammad Fauzan Nursobar Sudarjat Universitas Brawijaya

DOI:

https://doi.org/10.56393/konstruksisosial.v5i2.3726

Keywords:

Sumber Biru, Konservasi, Kearifan Lokal

Abstract

Kajian konservasi mata air dalam studi antropologi masih didominasi oleh pendekatan teknokratis dan berorientasi negara yang cenderung memisahkan proses ekologis dari praktik kultural masyarakat lokal, sehingga mitos dan ritual kerap diposisikan sekadar sebagai ekspresi simbolik. Kondisi ini menimbulkan celah teoretis dalam memahami bagaimana sistem kepercayaan lokal berfungsi sebagai mekanisme tata kelola ekologis yang efektif. Penelitian ini mengkaji peran ingatan sejarah, legitimasi mitos, dan praktik ritual dalam membentuk tata kelola Sumber Biru di Dusun Biru, Desa Gunungrejo, Singosari. Penelitian dilakukan melalui pendekatan etnografi selama dua minggu dengan teknik observasi partisipatif, eksplorasi situs, dan wawancara mendalam dengan juru kunci, sejarawan lokal, dan masyarakat setempat, serta dianalisis secara interpretatif. Dengan merujuk pada konsep mitos sebagai legitimasi sosial Malinowski dan etnografi multispesies Kirksey–Helmreich, penelitian ini menunjukkan bahwa mitos, artefak sejarah, dan ritual adat beroperasi sebagai kerangka normatif yang mengatur perilaku ekologis, membatasi eksploitasi sumber air, dan mencegah komodifikasi. Temuan ini memperluas pemahaman tentang tata kelola konservasi berbasis kearifan lokal di luar kerangka regulasi formal negara.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Beatty, A. (1999). Varieties of Javanese religion: An anthropological account. Cambridge University Press.

Berkes, F., & Usher, P. J. (2000). Sacred knowledge, traditional ecological knowledge and resource management. Arctic, 53(2), 198–200. https://doi.org/10.14430/arctic849

Cote, M., & Nightingale, A. J. (2012). Resilience thinking meets social theory: Situating social change in socio-ecological systems (SES) research. Progress in Human Geography, 36(4), 475–489. https://doi.org/10.1177/0309132511425708

Danandjaja, J. (1997). Folklor Indonesia: Ilmu gosip, dongeng, dan lain-lain. PT Pustaka Utama Grafiti.

Damaika, B., Harkrisnowo, H., & Saktiani, D. (2018). Kakawin Nagarakertagama. Narasi.

Dewi, D. N., Kusumawardani, I. N., & Lintangsari, A. P. (2020). Local wisdom-based stories in conserving water resources. Local Wisdom: Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal, 12(1), 71–78.

Endraswara, S. (2013). Foklor Nusantara: Bentuk dan Fungsi. Penerbit Ombak.

Geertz, C. (1976). The religion of Java. University of Chicago Press.

Habibi, S., Ardian, S., Asrita, E., Yuni, R. A., Viansa, A., Putri, N. A., & Syafieh, S. (2024). Konservasi sumber mata air berbasis kearifan lokal di desa meurandeh kota langsa aceh. Ejoin: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2(1), 1–8.

Hasbiah, A. (2015). Analysis of local wisdom as environmental conservation strategy in Indonesia. Journal Sampurasun: Interdisciplinary Studies for Cultural Heritage, 1(1), 1–10.

Herimanto, Winarno, & Setyawati, D. L. (2013). Ecoliteracy masyarakat rawan bencana melalui mitos Prabu Boko di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Forum Ilmu Sosial, 40(2), 105–115.

Herminingrum, S., & Junining, E. (2016). Socio-cultural life of Kelud people in connecting with traditional mitigation effort based on local wisdom. International Journal of Social and Local Economic Governance, 2(2), 127–135. https://doi.org/10.21776/ub.ijleg.2016.002.02.3

Holm, M. (2021). Indigenous rights in changing forest landscapes in South-East Asia: How narratives in science and practice frame indigenous environmental justice and stewardship [Doctoral dissertation, University of Helsinki]. Helda Repository. https://helda.helsinki.fi/handle/10138/334726

Kirksey, S. E., & Helmreich, S. (2010). The emergence of multispecies ethnography. Cultural Anthropology, 25(4), 545–576. https://doi.org/10.1111/j.1548-1360.2010.01069.x

Koentjaraningrat. (2010). Sejarah teori antropologi I. UI Press.

Kockel, U. (2008). Putting the folk in their place: Tradition, ecology and the public role of ethnology. Anthropological Journal of European Cultures, 17(1), 5–23. https://doi.org/10.3167/ajec.2008.170102

Lambek, M. (Ed.). (2002). A reader in the anthropology of religion. Blackwell Publishing.

Malinowski, B. (2009). Myth in primitive psychology. In J. R. Lewis & O. Hammer (Eds.), Myths and mythologies: A reader (pp. 126–140). Routledge. (Karya asli diterbitkan 1926)

Robson, S. (Trans.). (1995). Desawarnana (Nagarakrtagama) by Mpu Prapanca. KITLV Press.

Santi, R. N. (2019). Keterkaitan mitos masyarakat dengan konservasi sumber air di Sumber Songo, Desa Jenggolo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur [Disertasi doktoral tidak diterbitkan]. Universitas Brawijaya.

Sumarmi. (2015). Local wisdom of Osing people in conserving water resources. Komunitas: International Journal of Indonesian Society and Culture, 7(1), 43–51. https://doi.org/10.15294/komunitas.v7i1.3424

Suprapto, R. H. (2015). Kitab petuah warisan leluhur Jawa. Laksana.

Vidayanti, V., Retnaningdyah, C., & Arisoesilaningsih, E. (2024). How is the condition of Sumber Nagan-Singosari? Dalam AIP Conference Proceedings (Vol. 3001, No. 1, Article 080061). AIP Publishing. https://doi.org/10.1063/5.0184109

Weningtyas, A., & Widuri, E. (2022). Pengelolaan sumber daya air berbasis kearifan lokal sebagai modal untuk pembangunan berkelanjutan. Volksgeist: Jurnal Ilmu Hukum dan Konstitusi, 5(1), 129–144. https://doi.org/10.24090/volksgeist.v5i1.6302

Downloads

Published

2025-12-27

How to Cite

Sudarjat, M. F. N. (2025). Menjaga Denyut Sumber Biru: Resiliensi Sosio-Ekologis dan Tata Kelola Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Gunungrejo, Singosari . Konstruksi Sosial : Jurnal Penelitian Ilmu Sosial, 5(2), 78–87. https://doi.org/10.56393/konstruksisosial.v5i2.3726