Optimalisasi Fungsi Check and Balances dalam Tata Kelola Dana Desa: Analisis Pertanggungjawaban Hukum dan Hak Pengawasan Masyarakat
DOI:
https://doi.org/10.56393/decive.v5i8.4278Keywords:
Akuntabilitas, Check and Balances, Dana Desa, Hak Pengawasan, Pertanggungjawaban HukumAbstract
Pengelolaan Dana Desa sering kali menghadapi risiko malakuntabilitas akibat dominasi kewenangan pemerintah desa yang tidak seimbang dalam tata kelola anggaran. Meskipun regulasi telah mengatur mekanisme pelaporan teknis, terdapat gap penelitian berupa pengabaian terhadap fungsi check and balances yang menempatkan partisipasi masyarakat hanya sebagai formalitas administratif. Penelitian hukum normatif ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan pertanggungjawaban hukum pemerintah desa serta mempertegas hak pengawasan masyarakat melalui pendekatan perundang-undangan, kasus, dan konseptual. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pertanggungjawaban pemerintah desa merupakan tanggung jawab jabatan yang bersifat mutlak dan harus memenuhi standar transparansi yuridis. Kebaruan penelitian ini terletak pada redefinisi partisipasi masyarakat bukan sekadar kontrol sosial, melainkan sebagai hak hukum konstitusional yang bersifat imperatif. Penguatan kedudukan hukum masyarakat dalam pengawasan merupakan instrumen hukum utama untuk menjamin integritas alokasi dana publik serta mewujudkan keseimbangan kekuasaan di tingkat desa. Secara praktis, temuan ini berimplikasi pada urgensi reformulasi kebijakan tata kelola desa di masa depan yang mengadopsi mekanisme partisipasi masyarakat sebagai dasar hukum yang berguna untuk memitigasi risiko korupsi dan menjamin integritas alokasi dana.
Downloads
References
Antlöv, H., Wetterberg, A., & Dharmawan, L. (2016). Village governance, community life, and the 2014 Village Law in Indonesia. Bulletin of Indonesian Economic Studies, 52(2), 161–183. https://doi.org/10.1080/00074918.2015.1129047
Arfiansyah, M. A. (2020). Pengaruh sistem keuangan desa dan sistem pengendalian intern pemerintah terhadap akuntabilitas pengelolaan dana desa. JIFA (Journal of Islamic Finance and Accounting), 3(1). https://doi.org/10.22515/jifa.v3i1.2369
Asmawanti, D., Fitranita, V., & Febriani, R. E. (2022). The exploratory study on performance of Village-Owned Enterprises (BUMDes) in small regency Bengkulu. Jurnal Akuntansi & Auditing Indonesia, 26(2), 157–168. https://doi.org/10.20885/jaai.vol26.iss2.art5
Asthana, A. N. (2008). Decentralisation and corruption: Evidence from drinking water sector. Public Administration and Development, 28(3), 181–189. https://doi.org/10.1002/pad.496
Bachtiar, R. (2018). The impact of decentralisation on public sector corruption in Indonesia. Publisia: Jurnal Ilmu Administrasi Publik, 3(2). https://doi.org/10.26905/pjiap.v3i2.2255
Bahruna, N., Naz’aina, N., & Haykal, M. (2021). Pengaruh pengetahuan dewan tentang anggaran, partisipasi masyarakat, transparansi kebijakan publik, dan akuntabilitas publik terhadap pengawasan keuangan daerah. J-MIND (Jurnal Manajemen Indonesia), 6(2), 75–89. https://doi.org/10.29103/j-mind.v6i2.5228
Basuki, A. (2010). Pakta integritas di tengah suramnya pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia. Perspektif, 15(1), 37–45. https://doi.org/10.30742/perspektif.v15i1.31
Bovens, M. (2007). Analysing and assessing accountability: A conceptual framework. European Law Journal, 13(4), 447–468. https://doi.org/10.1111/j.1468-0386.2007.00378.x
Cornwall, A., & Coelho, V. S. P. (2007). Spaces for change? The politics of citizen participation in new democratic arenas. Zed Books.
Erdianti, N., & Ramadhan, M. R. H. I. (2023). Analisis pengawasan pengelolaan keuangan negara terhadap prinsip transparansi dan akuntabilitas berdasarkan regulasi pengelolaan keuangan desa. Beleid, 1(1), 1–10. https://doi.org/10.51825/beleid.v1i1.24654
Felencia, N. C. (2022). Pengawasan dalam Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) terhadap keuangan negara berdasarkan peraturan BPKP. Law, Development and Justice Review, 5(2), 213–227. https://doi.org/10.14710/ldjr.v5i2.17214
Fox, J. A. (2015). Social accountability: What does the evidence really say? World Development, 72, 346–361. https://doi.org/10.1016/j.worlddev.2015.03.011
Fritzen, S. A. (2007). Can the design of community-driven development reduce the risk of elite capture? Evidence from Indonesia. World Development, 35(8), 1359–1375. https://doi.org/10.1016/j.worlddev.2007.05.001
Gabrillin, A. (2017, August 2). Kasus suap Kajari Pamekasan terkait penanganan korupsi dana desa. Kompas. https://nasional.kompas.com/read/2017/08/02/21581931/kasus-suap-kajari-pamekasan-terkait-penanganan-korupsi-dana-desa
Habibi, F., & Nugroho, A. (2018). Penerapan dimensi akuntabilitas publik dalam pencegahan korupsi dana desa di Kabupaten Pandeglang. Jurnal Ilmu Administrasi, 15(2), 197–211. https://doi.org/10.31113/jia.v15i2.161
Hadiz, V. R. (2004). Decentralization and democracy in Indonesia: A critique of neo-institutionalist perspectives. Development and Change, 35(4), 697–718. https://doi.org/10.1111/j.0012-155X.2004.00376.x
Karim, S. (2022). Otonomi desa dan pergeseran kekuasaan elit lokal. Vox Populi, 5(1), 94–107. https://doi.org/10.24252/vp.v5i1.29822
Kartika, A. W. (2020). Konsekuensi yuridis putusan MKRI No. 137/PUU-XIII/2015 terhadap pergeseran kewenangan pengujian peraturan daerah dan peraturan kepala daerah kabupaten/kota oleh gubernur. Asy-Syir’ah: Jurnal Ilmu Syari’ah dan Hukum, 54(2), 443–460. https://doi.org/10.14421/ajish.v54i2.913
Kartika, R. (2012). Partisipasi masyarakat dalam mengelola alokasi dana desa (ADD). Jurnal Bina Praja, 4(3), 179–188. https://doi.org/10.21787/JBP.04.2012.179-188
Lewis, B. D. (2015). Decentralising to villages in Indonesia: Money (and other) mistakes. Public Administration and Development, 35(5), 347–359. https://doi.org/10.1002/pad.1741
Mansuri, G., & Rao, V. (2013). Localizing development: Does participation work? World Bank. https://doi.org/10.1596/978-0-8213-8256-1
Mansuri, G., Rao, V., & World Bank. (2004). Community-based (and driven) development: A critical review. World Bank Publications. https://doi.org/10.1596/1813-9450-3209
Nurcholis, H. (2011). Pertumbuhan dan penyelenggaraan pemerintahan desa (1st ed.). Erlangga.
Permatasari, P., Budiarso, A., Dartanto, T., Samosir, A. P., Saputro, B., Ekayana, D., Agustono, E. D., Alim, T. E., Hartono, L., Wahyuputri, F. W., & Wardhana, I. W. (2024). Village fund management and reporting systems: Are they accountable? Transforming Government: People, Process and Policy, 18(4), 512–528. https://doi.org/10.1108/TG-07-2023-0098
Ra’is, D. U., & Rini, Y. T. (2024). Transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana desa: Analisa tren pengelolaan dana desa 2016–2024. JADMENT: Journal of Administration and Development, 1(2), 89–102. https://doi.org/10.62085/jadment.v1i2.13
Rohman, A., & Wulan, D. R. (2023). Peran pemerintah sebagai pelaksana kebijakan moneter terhadap kestabilan keuangan negara. CIVITAS: Jurnal Pembelajaran dan Ilmu Civic, 9(1), 19–22. https://doi.org/10.36987/civitas.v9i1.4191
Roza, N. (2022). Problematika penentuan status keuangan negara dalam badan usaha milik negara persero. Jurnal Lex Renaissance, 7(1), 41–54. https://doi.org/10.20885/JLR.vol7.iss1.art4
Saputra, K. A. K., Anggiriawan, P. B., Trisnadewi, A. A. A. E., Kawisana, P. G. W. P., & Ekajayanti, L. G. P. S. (2019). Pengelolaan pendapatan asli desa sebagai landasan pembangunan ekonomi pedesaan. Ekuitas: Jurnal Pendidikan Ekonomi, 7(1), 5–12. https://doi.org/10.23887/ekuitas.v7i1.16688
Sari, T. R., & Rohman, A. (2024). Analysis of factors affecting accountability of village fund management. Quantitative Economics and Management Studies, 5(2), 269–282. https://doi.org/10.35877/454RI.qems2409
Sholihah, N. I., Adriadi, R., Darmi, T., & Rosidin, R. (2025). The impact of Gedang Begele policy on local democracy in Sibak Village. Jurnal Multidisiplin Dehasen, 4(3). https://doi.org/10.37676/mude.v4i3.8656
Siburian, M. E. (2024). Fiscal decentralization and corruption: A case of Indonesia. Applied Economics Letters, 31(1), 87–90. https://doi.org/10.1080/13504851.2022.2128164
Tanjung, C. A. (2017). Kasus korupsi dana desa Rp 306 juta, kades di Riau ditahan jaksa. Detik News. https://news.detik.com/berita/d-3767278/kasus-korupsi-dana-desa-rp-306-juta-kades-di-riau-ditahan-jaksa
Touchton, M., & Wampler, B. (2014). Improving social well-being through new democratic institutions. Comparative Political Studies, 47(10), 1442–1469. https://doi.org/10.1177/0010414013512601
Vasstrøm, M., & Normann, R. (2019). The role of local government in rural communities: Culture-based development strategies. Local Government Studies, 45(6), 848–868. https://doi.org/10.1080/03003930.2019.1590200
Vel, J. A. C., & Bedner, A. W. (2015). Decentralisation and village governance in Indonesia: The return to the nagari and the 2014 Village Law. The Journal of Legal Pluralism and Unofficial Law, 47(3), 493–507. https://doi.org/10.1080/07329113.2015.1109379
Vel, J., Zakaria, Y., & Bedner, A. (2017). Law-making as a strategy for change: Indonesia’s new Village Law. Asian Journal of Law and Society, 4(2), 447–471. https://doi.org/10.1017/als.2017.21
Widiawati, D., Yuliani, N. L., & Purwantini, A. H. (2022). Analysis of determinants on village fund management accountability. Urecol Journal Part B: Economics and Business, 2(1), 9–19. https://doi.org/10.53017/ujeb.128
Widjaja, H. (2008). Penyelenggaraan otonomi di Indonesia. Raja Grafindo Persada.

